MULTIMEDIA PEMBELAJARAN REVOLUSI INDUSTRI ERA 4.0
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi industri generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengangkat naik perekonomian secara dramatis.
Seiring pendidikan yang menyatu dengan internet, berbagai model pendidikan baru telah muncul. Salah satu bentuk representatif dari model pembelajaran adalah kelas membalik atau membalik kelas yang secara universal dikenal sebagai metode pendidikan yang inovatif di era digital. Pembelajaran terbalik adalah strategi instruksional dan jenis pembelajaran campuran yang membalikkan pengaturan pendidikan tradisional dengan memberikan konten instruksional, di luar kelas, seringkali online dalam format digital.
Tidak dapat kita pungkiri, dengan semakin canggihnya teknologi yang sedang berkembang mau tidak mau membawa perubahan yang cukup signifikan di berbagai lintas sektor kehidupan. Salah satu bahasan yang cukup menarik yakni terkait hubungan revolusi industri 4.0 dengan sistem pendidikan di Indonesia, sesuai arahan MENRISTEKDIKTI terkait dampak industri 4.0 yakni dengan adanya ‘digitalisasi sistem’, mau tidak mau menuntut baik para dosen maupun mahasiswa untuk mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sistem pembelajaran yang semula berbasis pada tatap muka secara langsung di kelas, bukan tidak mungkin akan dapat digantikan dengan sistem pembelajaran yang terintegrasikan melalui jaringan internet (online learning). Adanya perubahan tersebut juga memiliki analisis risk-benefit, di mana keuntungan yang bisa didapatkan antara lain mahasiswa tetap bisa belajar dan tetap bisa mengakses materi pembelajaran tanpa harus hadir di kelas, hal ini pun menjadi keuntungan tersendiri bagi siswa yang mengalami kendala dalam hal jarak dan finansial.
Seiring pendidikan yang menyatu dengan internet, berbagai model pendidikan baru telah muncul. Salah satu bentuk representatif dari model pembelajaran adalah kelas membalik atau membalik kelas yang secara universal dikenal sebagai metode pendidikan yang inovatif di era digital. Pembelajaran terbalik adalah strategi instruksional dan jenis pembelajaran campuran yang membalikkan pengaturan pendidikan tradisional dengan memberikan konten instruksional, di luar kelas, seringkali online dalam format digital.
Tidak dapat kita pungkiri, dengan semakin canggihnya teknologi yang sedang berkembang mau tidak mau membawa perubahan yang cukup signifikan di berbagai lintas sektor kehidupan. Salah satu bahasan yang cukup menarik yakni terkait hubungan revolusi industri 4.0 dengan sistem pendidikan di Indonesia, sesuai arahan MENRISTEKDIKTI terkait dampak industri 4.0 yakni dengan adanya ‘digitalisasi sistem’, mau tidak mau menuntut baik para dosen maupun mahasiswa untuk mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sistem pembelajaran yang semula berbasis pada tatap muka secara langsung di kelas, bukan tidak mungkin akan dapat digantikan dengan sistem pembelajaran yang terintegrasikan melalui jaringan internet (online learning). Adanya perubahan tersebut juga memiliki analisis risk-benefit, di mana keuntungan yang bisa didapatkan antara lain mahasiswa tetap bisa belajar dan tetap bisa mengakses materi pembelajaran tanpa harus hadir di kelas, hal ini pun menjadi keuntungan tersendiri bagi siswa yang mengalami kendala dalam hal jarak dan finansial.
Lain hal dengan keuntungan, adapun masalah yang dapat muncul terkait dengan hal tersebut adalah dituntutnya peran PTN/PTS untuk berhasil mencetak lulusan yang mampu bersaing baik dalam skala nasional maupun internasional dengan adanya perubahan tersebut, terlepas dari siap atau tidaknya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang perubahan yang ada. Sebagai contoh suatu gebrakan baru yang dilakukan 2 universitas terkemuka dunia (Harvard dan MIT) terkait kesiapan menghadapi revolusi industri 4.0 yakni dengan membuat suatu portal khusus yang menyediakan perkuliahan online learning secara gratis dan dapat diakses oleh siapapun, bukan tidak mungkin kini mimpi untuk menimba ilmu dari pengajar berkualitas dari dua kampus terkemuka dunia tersebut saat ini bukan menjadi suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan.
ERA disrupsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah mulai dirasakan di berbagai negara maju. Di antaranya pada sektor industri media massa berbasis cetak.
Laju penetrasi internet yang begitu masif menghasilkan beragam inovasi perangkat lunak berteknologi canggih yang memikat masyarakat. Mengakses informasi berupa berita kini tidak lagi harus dengan memegang puluhan lembar kertas berukuran besar. Walakin, pembaca cukup menggenggam telefon seluler pintar yang terkoneksi dengan internet.
Era disrupsi TIK bukan hanya bakal menggerus bisnis konvensional semacam media massa cetak, melainkan juga mengubah ekosistem dunia pendidikan, susunan baku lapangan pekerjaan, dan struktur interaksi antarmanusia.
Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memperkirakan, datangnya disrupsi TIK ke dalam negeri bisa 5-10 tahun ke depan atau bahkan dimulai esok hari. Manfaat dan mudaratnya tidak bisa diukur secara pasti dan kapan akan terjadi. Yang jelas, era yang—oleh Kemenristekdikti—disebut Revolusi Industri 4.0 itu pasti datang ke Indonesia, cepat atau lambat.
”Contoh paling mudah yang sudah dirasakan dalam era disrupsi ini adalah perkuliahan tidak akan banyak secara tatap muka di kelas. Bisa melalui video conference, e-learning, dan distance learning. Kalau itu bisa dilakukan, perguruan tinggi harus mulai mencobanya. Ini yang harus kami lakukan, tetapi saya belum membuat regulasinya,” kata Menristekdikti Mohamad Nasir di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu 13 Desember 2017.
Ia mengatakan, dengan pola kuliah seperti itu, kurikulum pendidikan tinggi nasional tidak secara otomatis harus berubah.
Meskipun demikian, kompetensi para dosen sudah mutlak harus ditingkatkan. Pasalnya, kuliah e-learning akan mereduksi interaksi antara dosen dan mahasiswa.
Jika dosennya tidak mampu menjelaskan mata kuliah secara komperehensif dan jelas, mutu lulusan yang akan dipertaruhkan.
”Kompetensi dosen harus di-upgrade. Dosen yang tidak mau meng-upgrade diri pasti nanti ketinggalan,” tuturnya.
Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristekdikti Patdono Suwignjo menjelaskan, salah satu cara yang dilakukan Kemenristekdikti untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 adalah merevitalisasi 12 politeknik.
Kemenristekdikti juga sudah menyempurnakan regulasi yang melegitimasi pendidikan jarak jauh. ”Nanti kami akan tambah lagi aturan-aturan yang menyesuaikan dengan perkembangan implementasinya,” katanya.
Ia mengatakan, Revolusi Industri 4.0 akan banyak ”memakan korban”. Pekerjaan yang dulu bisa dilakukan secara manual, ke depannya bisa dilakukan oleh mesin. Di lain sisi, datangnya era disrupsi ini juga akan melahirkan banyak profesi dan lapangan pekerjaan baru, termasuk membuka pendirian program studi baru di semua kampus.
permasalahan :
adapun masalah yang dapat muncul terkait dengan hal tersebut adalah dituntutnya peran PTN/PTS untuk berhasil mencetak lulusan yang mampu bersaing baik dalam skala nasional maupun internasional dengan adanya perubahan tersebut, terlepas dari siap atau tidaknya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang perubahan yang ada
apakah dengan menerapkan multimedia ini akan timbul masalah-masalah seperti yang dijelaskan diatas?, dan kenapa masalah itu dapat terjadi?
permasalahan :
adapun masalah yang dapat muncul terkait dengan hal tersebut adalah dituntutnya peran PTN/PTS untuk berhasil mencetak lulusan yang mampu bersaing baik dalam skala nasional maupun internasional dengan adanya perubahan tersebut, terlepas dari siap atau tidaknya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang perubahan yang ada
apakah dengan menerapkan multimedia ini akan timbul masalah-masalah seperti yang dijelaskan diatas?, dan kenapa masalah itu dapat terjadi?
Saya rasa pasti akan timbul masalah, nah jika tidak siap nya sarana dan prasarananya tentu untuk bersaing dengan negara lain kita akan kalah karena tidak siap nya sarana dan prasarana itu tadi
BalasHapusMenurut saya, pasti akan timbul masalah, karena tidak semua pns bisa seperti itu, dibutuhkan keterampilan dan pengethauan khusu agar bisa menerapkan nya.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan no 2
BalasHapusMenurut saya lasti ada kendala yang akan terjadi.
Karena tidak semua PTN/PTS akan mampu memberikan sarana dan prasarana dalam menunjang guru dan peserta didiknya dalam proses belajar mengajar. Kemudian tidak semua siswa dan guru dapat langsung beradaptasi dengan kemajuan teknologi sekarang ini sehingga diperlukan waktu agar dapat beradaptasi
Menurut saya hal tersebut dapat terjadi karena perbedaan kurikulum dari setiap negara dan cara perkuliahan yg terkadang memiliki perbedaan yg besar
BalasHapusjika tidak siap nya sarana dan prasarananya tentu untuk bersaing dengan negara lain kita akan kalah karena tidak siap nya sarana dan prasarana itu tadi
BalasHapusjika tidak siap nya sarana dan prasarananya tentu untuk bersaing dengan negara lain kita akan kalah karena tidak siap nya sarana dan prasarana itu tadi
BalasHapusMenurut saya pasti akan terjadi maslah yang timbul. Karen tidak semua guru dapat kreatif , serta sarana dan prasarana juga dapat menyebabkan masalah itu timbul.
BalasHapusMenurut saya akan menimbulkan masalah karena blom tentu semua PTN bisa menghasilkan lulusan yang seperti itu. Jadi media blom bisa dikatan bisa menghasilkan lulusan terbaik.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan no 2
BalasHapusMenurut saya dalam menggunakan sesuatu itu pasti ada kendala yang akan terjadi.
Karena tidak semua PTN/PTS akan mampu memberikan sarana dan prasarana dalam menunjang guru dan peserta didiknya dalam proses belajar mengajar. Kemudian tidak semua siswa dan guru dapat langsung beradaptasi dengan kemajuan teknologi sekarang ini sehingga diperlukan waktu agar dapat beradaptasi
Saya rasa pasti akan timbul masalah. Karna bagaimanapun pastinya segala sesuatu tidak luput dari masalah. Bisa seperti sarana dan prasarana, individu itu sendiri, maupun tenaga pendidiknya.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan Anda. Tentu ada masalah, karena setiap negara yang masih berkembang (seperti Indonesia) akan sulit untuk menjadi negara yang maju secara pesat.
BalasHapusSalah faktornya adalah kemiskinan yang merajalela, yg masih perlu diberantas serta ditingkatkannya SDM yang berkualitas.
Menurut saya, masalah yang akan timbul ialah tertinggalnya perguruan tinggi yang sarana dan prasarananya kurang memadai. Cara mengatasinya yaitu dengan meningkatkan sarana dan prasarana serta menyesuaikan kurikulum dengan kondisi sarana dan prasarana yang ada.
BalasHapusSaya rasa pasti akan timbul masalah, nah jika tidak siap nya sarana dan prasarananya tentu untuk bersaing dengan negara lain kita akan kalah karena tidak siap nya sarana dan prasarana itu tadi
BalasHapustetunya pasti akan terjadi permasalahaan , apabila sarana dan prasarananya kurang dalam pendidikan maka otomatis kita tidak akan mampu bersaing dengan negara aatau daerah-daerah mana pun. akan lebih baik lagi jika kita lebih mengembangkan teknologi di setiap daerah
BalasHapusPerkembangan dunia iptek yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan.Begitupun dengan telah ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia.
BalasHapusBagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagiaan dan imortalitas. Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri.
Masalah apa pun tentu saja bisa terjadi. Cara mengatasinya kita sesuaikn dg masalah apa itu. Pada permasalahan ini kita harus meratakan sarana dan prasarana di sekolah atau kita bisa kreatif untuk bisa mengatasi keterbatasan tersebut.
BalasHapusSaya akan menambahkan sedikit tidak semua siswa dan guru dapat langsung beradaptasi dengan kemajuan teknologi sekarang ini sehingga diperlukan waktu agar dapat beradaptasi
BalasHapus