RESUME 4: Pengembangan e-learning Dalam Pembelajaran Kimia


·         Pengertian e-learning
Pengertian e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).

Pengertian e-learning berbeda dengan pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan bagian dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian National Training Authority bahwa e-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Online learning merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.

Penerapan e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu. Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:

a.       Web Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
b.      Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
c.       Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.

Penerapan e-learning lebih banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net) atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan) yang memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat. Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran penting di dalam penerapan e-learning, karena jika teknologi tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning, minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah kemandirian.

E-learning sangat berbeda dengan pembelajaran secara tradisional. Pada pembelajaran tradisional, peran pendidik masih cukup dominan, sedangkan pada e-learning peserta pendidik harus mempunyai kesadaran untuk belajar secara aktif dan mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan beberapa karakteristik peserta didik yang dapat mempengaruhi dari keberhasilan e-learning:

1)      Mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2)      Motivasi untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3)      Disiplin, peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan waktu dan tempat untuk belajar.
4)      Mandiri, kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning, karena tidak setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik, bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
5)      Mempunyai ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
6)      Dapat belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7)      Mempunyai kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning hendaknya mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini dapat untuk mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan teman sebayanya.
8)      Mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.

E-learning membutuhkan model yang harus didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif. Pengembang,  mempunyai kesempatan dalam merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan program e-learning. Untuk keperluan pengembangan e-learning, pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan keseluruhan dari kecakapan mengajar dalam proses pembelajaran e-learning. Pengembang diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang mungkin terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman belajar yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan komunikasi dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam pengintegrasian proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan dengan proses pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran dalam fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam penstrukturan konten.

Konten e-learning adalah objek yang harus ada agar pembelajaran dapat berjalan, sedangkan aktor e-learning adalah individu-individu yang melaksanakan pembelajaran e-learning. Konten e-learning dapat berupa text-based content, multimedia-based content ataupun kombinasi keduanya (text-based content dan multimedia-based content).

Aktor dalam pelaksanakan e-learning dapat dikatakan sama dengan aktor pada pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran diperlukan adanya pengajar atau tutor yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan pengajaran serta administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.

Konten dan aktor memiliki hubungan yang sangat erat, karena konten e-learning dibuat, disimpan, dirawat dan dipergunakan oleh aktor e-learning itu sendiri. Terdapat daur hidup (lifecycle) dalam konten e-learning dan aktor adalah pusat dari daur hidup tersebut. Aktor berperan dalam membua (create), menyimpan (archive), merawat (maintain) dan mempergunakan (use) konten e-learning.

Setiawan (2014) melaporkankan bahwa Technology Acceptance Model (TAM) telah mengalami ekstensi dengan memperhatikakan faktor eksternal, yaitu keyakinan diri (self efficacy) dan tekanan sosial (sosial influence) yang menjelaskan lebih lanjut dan penyebab dari kemudahan penggunaan (Perceived Ease Of Use) dan tentang kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang dimiliki pengguna teknologi. Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan teknologi adalah pengaruh sosial (social influence) atau lebih spesifik disebut dengan psychological attachment.

Pengembangan 

Pengembangan bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).

1.      Tahap pendefinisian (define)

Tahap pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1) analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa, langkah ini menetapkan subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa kelas X semester 2 dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi dengan karakter siswa yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator hasil belajar yang dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) analisis tugas dengan mencari literature dan sumber belajar tentang hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.

2.      Tahap perencanaan (design)

Tahap perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung, yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara intensif dengan dosen pembimbing.

3.      Tahap pengembangan (develop)

Pada tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah:
(1) konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian,
(2) validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh dari validator,
(3) analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian, saran, dan kritik dari validator,
(4) revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar yang akan digunakan, dan
(5) uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.

4.      Tahap penyebarluasan (disseminate)

Tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi belajar siswa.

Teknis Pelaksanaan E-Learning 

Secara garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: (1) hanya menggunakan media Web biasa, dan (2) menggunakan software khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan istilah learning management system (LMS). Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi dengan password (seperti model langganan majalah/ jurnal). Komunikasi bisanya dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web.

Pada cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah software (LMS) yang berfungsi untuk mengelola e-learning. Software (sistem) LMS biasanya mempunyai fasili tas-fasilitas yang berfungsi untuk (1) administrasi mahasiswa, (2) penyajian materi, (3) komunikasi,(4) pencatatan (portofolio), (5) evaluasi, bahkan (6) pengembangan materi. Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam system e-learning. Pada gambar berikut menyajikan diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi dari Kojhani, 2004).
Konsep keberhasilan program e-learning selain ditunjang oleh perangkat teknologi informasi, juga oleh perencanaan, administrasi, manajemen dan ekonomi yang memadai. Perlu juga diperhatikan peranan dari para fasilitator, dosen, staf, cara implementasi, cara mengadopsi teknologi baru, fasilitas, biaya, dan jadwal kegitan (Natakusumah, 2002).
Secara konsep, dosen e-learning harus mempunyai kemampuan pemahaman pada materi yang disampaikannya, memahami strategi e-learning yang efektif, bertanggung jawab pada materi pelajaran, persiapan pelajaran, pembuatan modul pelajaran, penyeleksian bahan penunjang, penyampaian materi pelajaran yang efektif, penentuan interaksi mahasiswa, penyeleksian dan pengevaluasian tugas secara elektronik. Studio pengajar perlu dikelola lebih baik dari pada ruangan kelas biasa. Dosen harus dapat menggunakan peralatan, antara lain menggunakan audio, video materials, dan jaringan komputer selama pembelajaran berlangsung. Menurut Koswara (2006) kemampuan baru yang diperlukan dosen untuk e-learning, antara lain perlu:
a. Mengerti tentang e-learning,
b. Mengidentifikasi karakteristik mahasiswa,
c. Mendesain dan mengembangkan materi kuliah yang interaktif sesuai dengan perkembangan teknologi baru,
d. Mengadaptasi strategi mengajar untuk menyampaikan materi secara elektronik,
e. Mengorganisir materi dalam format yang mudah untuk dipelajari,
f. Melakukan training dan praktek secara elektronik,
g. Terlibat dalam perencanaan, pengembangan, dan pengambilan keputusan,
h. Mengevaluasi keberhasilan pembelajaran, attitude dan persepsi para mahasiswanya.
Sementara itu untuk menghindari kegagalan e-learning, program-program yang perlu dikembangkan berkaitan dengan kebutuhan pengguna khususnya mahasiswa antara lain :
– Berkaitan dengan informasi tentang unit-unit terkait dengan proses pembelajaran : tujuan dan sasaran, silabus, metode pengajaran, jadwal kuliah, tugas, jadwal dosen, daftar referensi atau bahan bacaan dan kontak pengajar
– Kemudahan akses ke sumber referensi : diktat dan catatan kuliah, bahan presentasi, contoh uian yang lalu, FAQ (frequently ask question), sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas, situs-situs bermanfaat dan artikel-artikel dalam jurnal online
– Komunikasi dalam kelas : forum diskusi online, mailing list diskusi, papan pengumuman yang menyediakan informasi (perubahan jadwal kuliah, informasi tugas dan batas waktu pengumpulannya
Soekartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web. Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut.Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi pembelajaran.

Permasalahan :
1.      Bagaimana upaya dari seorang guru supaya e-learning yang ia gunakan dapat menarik minat siswa untuk belajar?
2.      Bagaimana cara mengatasi atau meminimalisir hal yang mungkin terjadi akibat dari kekurangan e-learning yang di buat jika anda menjadi seorang guru? Dan menurut anda apakah pembelajran e-learning sudah efektif digunakan saat ini ?

Komentar

  1. Saya akan menjawab permasalahan anda yang pertama, menurut saya agar e-learning menarik perhatian siswa perlu Untuk merancang strategi E-learning terdapat hal yang harus diperhatikan, antara lain ; analisis isi pembelajaran, analisis pembelajar, analisis kompetensi yang akan dicapai, analisis proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan penyusunan alat evaluasi.

    BalasHapus
  2. Perlu diberikan penekanan, bahwa konsep dasar e-Learning adalah “pedagogi yang diperkuat oleh teknologi” (Wikipedia, 2009), sehingga guru harus berfikir tentang banyak aspek dari pedagogi dibanding kepada sisi teknologi saja. Artinya, guru haruslah memikirkan berbagai strategi pembelajaran agar efektif dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, dibandingkan dengan fokus mengajarkan teknologi baru ini kepada para siswanya. Karena teknologi disini hanyalah sebagai “alat bantu” untuk mendukung tujuan pembelajaran itu sendiri.

    Proses sosialisasi e-Learning pada sekolah dan universitas, seringkali dimaknai oleh guru berparadigma lama akan menggantikan dan menggusur posisi mereka nantinya karena lewat e-Learning jam tatap muka dikelas akan berkurang, lalu dominasi guru akan melemah. Hal tersebut salah adanya, berbeda konsep dengan penerapan e-Learning untuk menyelenggarakan perkuliahan jarak jauh. Konsep penerapan e-Learning yang dibahas pada tulisan ini, dimana sistem e-Learning diterapkan pada sekolah atau universitas, lebih pada menempatkan e-Learning sebagai suplemen dan komplemen dari perkuliahan yang telah ada. Dan memfungsikan dirinya sebagai tempat menyimpan bahan ajar, media interaksi antara dosen dan mahasiswa, media diskusi antara dosen dengan mahasiswa ataupun mahasiswa dengan rekan sejawatnya. Media evaluasi untuk mengumpulkan tugas, media untuk menggali kreatifitas siswa lewat portfolio, dsb.

    BalasHapus
  3. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang kedua.
    Cara mengatasi kelemahan E-Learning adalah dengan menyiapkan proses pembelajaran dengan baik agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik saat menggunakan media E-Learning.
    Misalnya Cara mengembangkan ranah afektif dan psikomotorik dengan media E-Learning adalah dengan learning by doing yaitu belajar dengan bertindak, caranya adalah didalam media e-learning itu guru membuat soal yang mengintruksikan bahwa siswa harus bergerak atau bertindak sesuai dengan materi yang sedang dipelajari seperti contoh didalam e-learning siswa diberikan tugas untuk mengamati keadaan sekitar yang berhubungan dengan toleransi.dan seperti Cara memunculkan nilai karakter dengan media e-learning adalah dengan seperti jawaban tadi, siswa diberi intruksi untuk mengerjakan tugas yang tugas itu ada didalam e-learning, maka secara tidak langsung hal tersebut merupakan perwujudan dari nilai karakter tanggungjawab maka siswa membuka e-learning untuk mengerjakan soal tersebut, setelah itu siswa mengerjakan soal dan siswa mengerjakan soal dengan baik tanpa menyontek dengan demikian maka secara tidak langsung hal tersebut merupakan perwujudan dari nilai karakter jujur dan masih banyak contoh lainnya.

    BalasHapus
  4. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 2
    Dimana kekurangan dari e-learning yaitu diantaranya:
    1. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu
    sendiri.
    Disini sebaiknya guru tidak terlalu bergantung dengan komputer, jadi hmguru ahrus tetap melakukan interaksi antar murid, maupun murid dengan murid
    2. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran menggunakan
    ICT.
    Disini guru dituntut agar tau menggunakan komputer, sehingga guru akan lebih mudah dalam menerapkan e-learning dalam pembelajaran
    3. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
    Jika disini siswa tidak mengetahui cara mengelola komputer dengan baik tentu pembelajaran akan terhambat bahkan gag, sehingga diperlukan peran guru agar bisa mengajarkan siswa nya untuk menggunakan komputer
    4. kurangnya tenaga yang mengtahui dan memiliki keterampilan internet.
    5. kurangnya penguasaan bahasa komputer.
    4 dan 5 Disini guru dan siswa harus berlatih agar terbiasa menggunakan komputer sehingga proses belajar mengajar dapat berjumpa dengan baik.

    Kemudian e-learning menurut saya akan lebih efektif digunakan jika disertai dengan pembelajaran secara langsung disekolah, sehingga siswa mempunyao banyak eaktu untuk belajar, disekolah dan dirumah

    BalasHapus
  5. Konsep penerapan e-Learning yang dibahas pada tulisan ini, dimana sistem e-Learning diterapkan pada sekolah atau universitas, lebih pada menempatkan e-Learning sebagai suplemen dan komplemen dari perkuliahan yang telah ada. Dan memfungsikan dirinya sebagai tempat menyimpan bahan ajar, media interaksi antara dosen dan mahasiswa, media diskusi antara dosen dengan mahasiswa ataupun mahasiswa dengan rekan sejawatnya. Media evaluasi untuk mengumpulkan tugas, media untuk menggali kreatifitas siswa lewat portfolio, dsb.

    BalasHapus
  6. Saya akan menjawab permasalahan anda yang pertama, menurut saya agar e-learning menarik perhatian siswa perlu Untuk merancang strategi E-learning terdapat hal yang harus diperhatikan, antara lain ; analisis isi pembelajaran, analisis pembelajar, analisis kompetensi yang akan dicapai, analisis proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan penyusunan alat evaluasi.
    Tetap menampilkan suatu yang menarik tapi harus berkaitan dengan materi

    BalasHapus
  7. Saya akan menjawab permasalahan anda yang pertama, menurut saya agar e-learning menarik perhatian siswa perlu Untuk merancang strategi E-learning terdapat hal yang harus diperhatikan, antara lain ; analisis isi pembelajaran, analisis pembelajar, analisis kompetensi yang akan dicapai, analisis proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan penyusunan alat evaluasi.
    Tetap menampilkan suatu yang menarik tapi harus berkaitan dengan materi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggapi permasalahan nomor 1, menurut saya untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran e-learning yaitu dengan melakukan tatap muka secara online, dan dilakukan ajang diskusi. Selain itu kita sesuaikan dengan usia sang anak didik, kira-kira hal apa yang membuat dia menarik dlm belajar berbasisi elektronik ini. Karena dengan tidak menatap muka secara langsung biasanya seseorang lebih mudah dalam mengungkapkan sesuatu. Dan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan e-learning adalah mnurut Christopher Pappas, pendiri dari The e-Learning Industry Network, mengemukakan setidaknya ada lima langkah praktis untuk mengembangkan sistem e-learning yang efektif:
      1. Identifikasi Metode e-learning
      2. Identifikasi Model Desain Instruksional
      3. Berpusat ke Peserta Didik (Learner Centered)
      4. Optimalisasi Teknologi Pembelajaran
      5.Membangun Prosedur Evaluasi dan Revisi.

      Hapus
  8. Learning bukanlah pembelajaran yang hanya sebatas memperkenalkan teknologi semata keepada warga belajar, tetapi membantu kepada tutor untuk mengintegrasikan teknologi selama proses pembelajaran, bagaimana tutor dapat mengejawantahkan kurikulum dalam pembelajaran.

    Interaksi antara warga belajar dengan tutor merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Karena, pembelajaran yang baik akan mampu menarik minat para warga belajar serta keterkaitannya dengan aktivitas dalam proses pembelajaran.

    Media dan sumber pembelajaran memainkan peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Penggunaan media dan bahan sumber E. Learning yang sesuai bukan saja dapat membantu penyampaian isi pelajaran, tetapi juga dapat menarik minat warga belajar dalam mengikuti pembelajaran dan membuat warga belajar menjadi tidak bosan.

    BalasHapus
  9. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang kedua.
    Cara mengatasi kelemahan E-Learning adalah dengan menyiapkan proses pembelajaran dengan baik agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik saat menggunakan media E-Learning.
    Misalnya Cara mengembangkan ranah afektif dan psikomotorik dengan media E-Learning adalah dengan learning by doing yaitu belajar dengan bertindak, caranya adalah didalam media e-learning itu guru membuat soal yang mengintruksikan bahwa siswa harus bergerak atau bertindak sesuai dengan materi yang sedang dipelajari seperti contoh didalam e-learning siswa diberikan tugas untuk mengamati keadaan sekitar yang berhubungan dengan toleransi.dan seperti Cara memunculkan nilai karakter dengan media e-learning adalah dengan seperti jawaban tadi, siswa diberi intruksi untuk mengerjakan tugas yang tugas itu ada didalam e-learning, maka secara tidak langsung hal tersebut merupakan perwujudan dari nilai karakter tanggungjawab maka siswa membuka e-learning untuk mengerjakan soal tersebut, setelah itu siswa mengerjakan soal dan siswa mengerjakan soal dengan baik tanpa menyontek dengan demikian maka secara tidak langsung hal tersebut merupakan perwujudan dari nilai karakter jujur dan masih banyak contoh lainnya.

    BalasHapus
  10. Nomer 1..langkah yang dilakukan guru ialah membuat materi yang semenarik mungkin.sehingga siswa itu mau ikut serta dalam e learing yang guru terapkan..kemudian hadirkan banyak video video percobaan atau tutuorial suatu materi..sebetulnya itu tertatik atau tidaknya siswa itu tergantung guru,karna guru kan aktor utama dalam pembelajaran

    BalasHapus
  11. E-learning membutuhkan model yang harus didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif. Pengembang, mempunyai kesempatan dalam merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan program e-learning. Untuk keperluan pengembangan e-learning, pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan keseluruhan dari kecakapan mengajar dalam proses pembelajaran e-learning. Pengembang diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang mungkin terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman belajar yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan komunikasi dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam pengintegrasian proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan dengan proses pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran dalam fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam penstrukturan konten.

    BalasHapus
  12. Menurut saya e- learning sudah cukup efektif jika di gunakan di kota besar tapi tidak untuk di pedesaan yg sarana dan prasarana belu. Tercukupi

    BalasHapus
  13. Terimakasih.. Materi anda sangat membantu, tetapi akan baiknya jika di lengkapi lagi.

    BalasHapus
  14. Dengan cara membuat suatu penghargaan jika siswanya berhasil dalam belajar dengan e-learning. Atau bisa juga dengan cara memberikan tambahan nilai

    BalasHapus
  15. Penggunaan waktu yang efisien sangatlah penting, tidak mengulang perkataan yang bertele-tele.

    BalasHapus
  16. Menurut saya, e-learning akan efektif bila simple, mudah diakses, dan menarik. Dan yang terpenting mengandung tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

    BalasHapus
  17. Trimakasih ini membantu saya dalam belajar saya

    BalasHapus
  18. Cara mengembangkan ranah afektif dan psikomotorik dengan media E-Learning adalah dengan learning by doing yaitu belajar dengan bertindak, caranya adalah didalam media e-learning itu guru membuat soal yang mengintruksikan bahwa siswa harus bergerak atau bertindak sesuai dengan materi yang sedang dipelajari seperti contoh didalam e-learning siswa diberikan tugas untuk mengamati keadaan sekitar yang berhubungan dengan toleransi

    BalasHapus

Posting Komentar